Headlines News :
Home » » Islam dalam Interaksi Sosial

Islam dalam Interaksi Sosial

Written By Islam Dalam Fakta on Senin, 07 Januari 2013 | 22.22

ISLAM dalam INTERAKSI SOSIAL
Oleh: Al-Zastrouw Ng
(Seorang Mahasiswa S3 Sosiologi UI, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia – LESBUMI – PBNU)

Judul tulisan ini diilhami munculnya fenomena kesulitan (kegamangan) sebagian umat dalam membumikan dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam interaksi sosial. Kesulitan ini bukan bersumber dari rumitnya ajaran Islam, tetapi justru berakar dari sikap sebagian pemeluk Islam ambigu dalam menerjemahkan dan mengaplikasikan ajaran yang sangat ideal dan manusiawi. Sampai detik ini, umat Islam belum mampu memanfaatkan ajaran dan nilai Islam secara tepat dan fungsional untuk menciptakan kemaslahatan dalam membangun relasi sosial, baik antara sesama manusia maupun dengan lingkungan.

Di satu sisi, secara normatif umat Islam selalu menyatakan bahwa Islam adalah agama rahmah, menjunjung tinggi keadilan, kemanusiaan dan kesetaraan. Untuk memperkuat argumentasi ini, digunakan sederet dalil tekstual yang tidak mungkin bisa dibantah, mulai teks Alquran, Hadis sampai kitab-kitab muktabar.

Sayangnya seluruh argumentasi ini menjadi mandul dan mandek ketika berhadapan dengan realitas sosial. Idealitas nilai dan ajaran yang ada dalam teks seolah berhenti ketika harus diterapkan dalam belantara kehidupan dengan berbagai problematikanya. Apalagi kalau di balik problem kehidupan itu tersembunyi berbagai kepentingan.

Kenyataan seperti ini pernah penulis alami ketika pada tahun 90-an melakukan penelitian di Jogjakarta, mengenai erakebangkitan agama dalam relasi sosial masyarakat desa. Era kebangkitan agama (Islam) saat itu ditandai dengan pendirian ICMI, “penghijauan kabinet”, menjamurnya kegiatan keagamaan di kantor-kantor, bahkan meningkatnya praktik beribadah di kalangan tokoh dan pejabat tinggi.

Dalam suasana seperti ini, penulis mengajukan pertanyaan kepada informan mengenai perasaan dan pengalaman mereka atas munculnya fenomena kebangkitan agama (Islam) dalam kehidupan sosial mereka. Para informan yang rata-rata orang desa, berpendidikan rendah dengan taraf pendapatan ekonomi rendah itu justru menyatakan kebingungan dan keanehan dengan adanya kebangkitan agama tersebut.

Secara polos dia bercerita; sebelum ada gerakan pengajian di desanya, sebelum kegiatan Islam marak dijalankan, merekahidup rukun dan damai dengan para tetangga. Interaksi sosial berjalan rukun dan guyub tanpa prasangka dan curiga.

Tak ada sekat-sekat kultural, sosial, apalagi ideologis yang memisahkan antarmereka. Ketika ada kematian, seluruh tetangga, bahkan berlainan desa dan berlainan agama datang melayat, mereka tidak peduli agama orang yang meninggaI. Hal yang sama terjadi saat acara selametan, biarpun doa dan ritus selamatan dilakukan 'secara Islam' tetangga yang non-Muslim ikut datang, sekadar menghormati undangan tetangga, demikian sebaliknya.

Menurut pengakuan orang-orang kampung itu, setelah ada kebangkitan agama, mereka merasa ada jarak dalam melakukan interaksi sosial. Karena menurut keterangan para penceramah yang mengisi pengajian, mereka tidak boleh ikut selamatan yang diadakan orang-orang yang beda agama, mereka juga dilarang menghadiri pesta bersama saat merayakan hari besar agama. Bahkan mengucapkan selamat kepada sesama tetangga juga dilarang hanya karena beda agama dan keyakinan.

Padahal sebelum ada pengajian yang marak dengan speaker yang menggema, ketika pengajian masih diberikan seorang kiai kampung dengan cara sangat sederhana, mereka bisa hidup guyub, rukun dan penuh tepo sliro pada tetangga yang berlainan agama.

Dalam interaksi sosial yang terbuka dan awam mereka tetap saja bisa beriman dan beragama dengan baik. Mereka merasa keislamannya tidak terganggu, bisa beribadah dengan tenang, keimanan mereka juga tidak tergerogoti orang lain. Mereka justru merasa enjoy menjadi Islam dengan sikap dan kehidupan yang toleran, damai dan terbuka dengan para tetangga. Tanpa prasangka, tanpa curiga.

Saya menduga, sikap eksklusif sebagian umat Islam ini masih terjadi di tempat lain dan berlangsung hingga sekarang. Karena dalam beberapa tahun kemudian saya juga mendengar cerita yang sama dari seorang teman yang mendapat cacian, dan umpatan dari sesama muslim hanya gara-gara dia memberikan ucapan selamat kepada kole¬ganya yang non-Muslim. Bahkan dia diminta bersahadat lagi, membayar denda, istighfar dan sebagainya. Padahal teman tersebut merasa bahwa keimananya kepada Allah SWT tidak berkurang sedikitpun ketika memberi ucapan selamat. Bahkan dia merasa bisa menjadi Muslim yang baik dan menjalankan ajaran Islam secara benar ketika melakukan semua itu. Menurutnya dengan cara itu, dia justru menunjukkan sisi kehebatan Islam yang mampu menebar kedamaian pada semua orang.

Akar-akar Ambiguitas

Apa yang terjadi menunjukkan sikap ambigu di kalangan sebagian umat Islam. Di satu sisi, mereka mengagungkan ajaran Islam yang cinta damai (QS. Al-Anfal: 61), manusiawi (QS. Al-Isra: 70 dan at-Tin:4) dan merdeka dalam memilih agama (QS. Al-Baqarah: 256). Namun di sisi lain, ketika dihadapkan realitas sosial dengan berbagai kompleksitas dan kepentingan yang menyertainya, seluruh idealitas itu hilang. Yang muncul kemudian sikap curiga, prasangka, sentimen dan berbagai macam kekhawatiran.

Agar kekhawatiran dan kecurigaan tersebut memiliki dasar yang legitimate, maka kemudian disembunyikan di balik selubung teks-teks agama. Sehingga kebencian dan kecurigaan tersebut menjadi sah dan wajar karena atas nama agama.

Mengapa bisa terjadi demikian? Menurut penulis ini terjadi karena pemahaman keagamaan yang rancu.

Mereka belum bisa memilah antara persoalan (tuntutan) kemanusiaan yang sifatnya profan (duniawi) dengan masalah keimanan yang teologis dan sakral. Semua persoalan, termasuk relasi sosial antarmanusia diukur dengan perspektif teologis yang sakral dan berdimensi tauhid. Padahal secara tegas Nabi menyatakan bahwa atum a'lamu bi umuurid dunyakum (Engkau lebih mangerti dalam urusan duniamu). Ini artinya manusia diberi kepercayaan Allah mengatur dan membina realitas sosial sesuai kreativitas dan konteks masing-masing.

Kedua, sikap ambigu ini merupakan cermin adanya problem interpretatif terhadap ajaran agama. Artinya, orang-orang Islam yang bersikap eksklusif tersebut memahami teks dan nasih secara tekstual tanpa melakukan interpretasi dan aktualisasi. Mereka tidak menangkap pesan-pesan moral dan spirit yang terkandung dalam teks, tetapi memahami terjemahan teks tersebut apa adanya. Padahal dengan menangkap spirit dan substansi teks tersebut ummat Islam dapat melakukan aktualisasi terhadap ajaran-ajaran Islam yang mulia. (??)

Dengan kata lain ajaran Islam yang shoheh fi kulli zamanin we makanin (benar di setiap waktu dan tempat) hanya dapat dibuktikan jika umat Islam mampu melakukan aktualisasi dan kontekstualisasi. Dengan cara ini, ajaran Islam bisa dioperasionalkan dalam kondisi apapun dan saat kapanpun. Tanpa ini, ajaran Islam yang agung hanya menjadi teks-teks beku yang hanya diucapkan dan dijadikan legitimasi saja, tidak bisa dioperasionalkan konkret karena dianggap tidak memiliki relevansi dengan kondisi zaman dan situasi sosial.

Dalam hal ini kita bisa meniru perilaku Nabi yang menjenguk seorang kafir Qurasy yang sedang sakit, padahal orang tersebut sering menyakiti dan mengganggu dakwah Nabi. Kisah ini memberi gambaran bahwa dalam melakukan interaksi sosial, Nabi menggunakan hukum-hukum dan etika sosial yang manusiawi.

Beliau melihat persoalan kemanusiaan dari perspektif hubungan antarmanusia bukan dari perspektif teologis dan keimanan. Perbedaan keimanan bukan menjadi penghalang melakukan interaksi sosial. Kalau terhadap orang kafir yang pernah manyakiti, Nabi mau besuk dan mendoakan, apalagi terhadap tetangga, relasi dan kawan baik yang tidak pernah mengganggu. Rasanya wajar jika umat Islam memberikan ucapan selamat atau menghadiri undangan dari tetangga, kawan dan relasi non-muslim. Sejauh hal itu dilakukan wajar, sekadar menjaga relasi dan interaksi sosial antarsesama manusia.

Sikap seperti ini tidak akan mengurangi nilai keunggulan ajaran Islam atau merusak keimanan. Keunggulan dan kemuliaan ajaran Islam justru akan terlihat jika perilaku dan akhlak sosial ummat Islam bisa memberikan ketenangan, ketentraman dan kedamaian kepada orang lain. Kekaguman orang lain pada ajaran Islam akan muncul jika ummat Islam mampu bersikap elegan dan simpatik, karena sebenarnya inilah etika sosial yang diajarkan Islam. Sebaliknya Islam justru menjadi mandul ketika dihadapkan pada sikap sentimen yang dangkal dan emosional, penuh prasangka.

Inilah problem utama umat Islam saat ini, menghilangkan sikap ambigu yang menjarakkan idealitas ajaran dengan realitas sosial yang konkret dan kompleks. Berjaraknya idealitas ajaran dengan realitas sosial bisa diatasi dengan cara menghilangkan prasangka dan curiga. Sikap penuh prasangka dan curiga ini tidak saja mengganggu proses interaksi sosial, tetapi juga mengerdilkan ajaran Islam yang mulia dan universal.

Untuk menghilangkan prasangka dan curiga diperlukan keberanian menjabarkan dan mempraktikkan Islam secara elegan, beradab, manusiawi dan tegas. Umat Islam tidak perlu khawatir dengan sikap humanis dan toleran dalam melakukan interaksi sosial Islam akan menjadi lemah, sebaliknya dengan sikap simpatik, elegan dan beradab justru bisa mengangkat dan menarik simpati semua manusia.

Di sini dibutuhkan keberanian, kedewasaan dan keikhlasan dalam memahami dan menjalankan Islam. Bukankah kejayaan dan keunggulan Islam terletak pada ajarannya yang humanis, ramah dan beradab? Bagaimana kita membuktikan ajaran yang ramah dan beradab kalau kita menjadikan Islam sebagai tembok penghalang barinteraksi dengan orang lain? (?????)

-------------------------
Sumber:
Koran “SURYA” edisi Kamis, 5 Juli 2007
halaman 4 – Opini.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Terjemahan

 
Copyright © 2011. Islam Dalam Fakta - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger