Headlines News :
Home » , , , , , , » Muhammad berzinah, kenapa tidak dirajam?

Muhammad berzinah, kenapa tidak dirajam?

Written By Islam Dalam Fakta on Minggu, 06 Januari 2013 | 16.02

Muhammad menerapkan hukuman rajam bagi sepasang Yahudi yang berzinah

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 531-533

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku, ia mendengar seseorang dari Muzainah dari salah seorang ulama yang berbicara dengan Sa'id bin Al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata kepada mereka, bahwa rahib-rahib Yahudi berkumpul di Baitul Midras -ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah- dan sebelumnya salah seorang dari mereka telah berzina -setelah ia menikah- dengan seorang wanita Yahudi yang telah menikah. 

    Mereka berkata, `Bawalah pria dan wanita ini kepada Muhammad, kemudian tanyakan kepadanya bagaimana hukum keduanya, dan beri dia hak untuk mengadili keduanya. Jika ia menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya seperti kalian, dia seorang raja dan ikuti dia. Jika dia menjatuhkan hukuman rajam kepadanya, dia seorang nabi dan jagalah apa yang ada pada kalian jangan sampai dia merampasnya.' 

    Mereka mendatangi Rasulullah SAW kemudian berkata, `Hai Muhammad. orang ini telah menikah kemudian berzina dengan wanita ini yang juga telah menikah. Adililah keduanya, karena kami telah memberi hak kepadamu untuk mengadili keduanya.' 

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di rahib-rahib mereka di Baitul Midras. Beliau bersabda kepada mereka. `Hai orang-orang Yahudi, keluarkan untukku ulama kalian.' 

    Mereka mengeluarkan Abdullah bin Shuriya kepada Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam.
    Ibnu Ishaq berkata bahwa sebagian orang dari Bani Quraidzah berkata kepadaku, selain mengeluarkan Abdullah bin Shuriya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka juga mengeluarkan Abu Yasir bin Akhthab dan Wahb bin Yahudza. Rahib-rahib Yahudi berkata, `Orang-orang inilah ulama kami.' 

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada rahib-rahib Yahudi tentang masing-masing ulama mereka tersebut hingga akhirnya mereka berkata tentang Abdullah bin Shuriya, `Orang ini lebih pandai tentang Taurat daripada ulama-ulama kami lainnya.'

    Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk berduaan dengan Abdullah bin Shuriya. Abdullah bin Shuriya adalah orang termuda di antara ulama-ulama Yahudi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mencecar Abdullah bin Shuriya dengan pertanyaan-pertanyaan, dan bertanya kepada Abdullah bin Shuriya, `Hai anak Shuriya, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan dengan hari-hari Allah yang ada di Bani Israel, tidakkah engkau tahu bahwa Allah memutuskan hukuman rajam bagi muhshan (orang yang telah menikah) yang berzina dalam Taurat.' 

    Abdullah bin Shuriya berkata. `Ya, demi Allah! Demi Allah, wahai Abu Al-Qasim, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah mengetahui bahwa engkau nabi yang diutus, namun mereka merasa iri kepadamu.'

    Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dan memerintahkan kedua orang tersebut dirajam di depan pintu masjid beliau di Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Shuriya kafir dan tidak mengakui kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang Yahudi tersebut,

      Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera kepada kekafiran, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, Kami telah benman, ' padahal hati mereka belum beriman, dan di antara orang-orang Yahudi yang amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan perkataan orang lain yang belum pemah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, Jika diberikan ini kepada kalian, maka terimalah, dan jika kalian diberi yang bukan ini, maka hati hatilah. Barangsiapa Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka memperoleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar.' (Al-Maidah: 41)

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah berkata kepadaku dari Ismail bin Ibrahim dari Ibnu Abbas yang berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pelaksanaan hukuman rajam kepada kedua pelaku zina tersebut, kemudian keduanya dirajam di depan masjid beliau. Ketika laki-laki Yahudi tersebut mulai mendapatkan lemparan batu, ia berdiri menuju sahabat wanitanya, kemudian menelungkupinya guna melindungi dari lemparan batu hingga akhirnya keduanya mati. Itulah salah satu yang diperbuat Allah bagi Rasul-Nya dalam melaksanakan eksekusi zina terhadap kedua orang tersebut."

Muhammad dan para pengikutnya juga berzinah, tapi tidak dihukum rajam

Tabaqat Ibn Sa’d, Vol 8, hal. 195 
    Ibnu Sa’d menulis: “Abu Bkr menceritakan bahwa Rasul SAW melakukan persetubuhan dg Mariyah di rumah Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk digerbang (di belakang pintu yg terkunci). Dia bilang pada nabi, O rasul, apa anda melakukan ini di rumahku dan ketika giliranku? Nabi berkata, kendalikan dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah membuatnya (Mariyah) haram bagiku. Hafsa berkata, "Aku tidak terima kecuali kamu bersumpah bagiku." Hazrat (yg mulia) itu berkata, "Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya lagi.”


Tidak lama berselang, dia bukannya taubat karena telah berzinah dg Mariyah, malah dia mengarang ayat untuk membatalkan sumpahnya itu supaya dia boleh meniduri Mariyah kembali:

Q 66:1-2 
    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Muhammad terus melakukan zinah dengan Mariyah, dan status Mariyah tetap budak (bukan istri) sampai dia melahirkan anak haram.


    Akan tetapi tidak lama ia mengalami kesedihan itu, dengan melalui Maria orang Koptiik, Tuhan telah memberi karunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, nama yang diambil dari Ibrahim leluhur para nabi, para hunif yang patuh kepada Tuhan. Sejak Maria diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi sampai pada waktu itu masih berstatus hamba sahaja. Oleh karena itu tempatnya tidak di samping mesjid seperti isteri-isteri Nabi Umm'l-Mukminin yang lain. Oleh Muhammad ia ditempatkan di 'Alia, di bagian luar kota Medinah, di tempat yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur.

Sumber-sumber Islam tertua lainnya membenarkan riwayat di atas:

Buku Asbabun Nuzul Imam Suyuti, Halaman 585: Sebab-sebab turunnya surat At-Tahrim
    Diriwayatkan oleh Anas: Suatu hari Rasulullah menggauli seorang budak wanita miliknya. Aisyah dan Hafshah lantas terus-menerus memperbincangkan kejadian tersebut sampai akhirnya Rasulullah menjadikan budaknya itu haram bagi diri beliau (tidak akan digauli lagi). Allah lalu menurunkan At-Tahrim ayat 1: "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Buku Asbabun Nuzul Imam Suyuti, Halaman 586: Sebab-sebab turunnya surat At-Tahrim
    Suatu ketika, Rasulullah menggauli Maria, seorang budak wanitanya, di rumah Hafsah. Tiba-tiba Hafsah muncul dan mendapati Maria tengah bersama Rasulullah. Hafsah lalu berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa harus di rumah saya, tidak di rumah istri-istri engkau yang lain?" Rasulullah lalu berkata, "Wahai Hafsah, mulai saat ini haram bagi saya untuk menyentuhnya kembali. Rahasiakanlah ucapan saya ini dari siapapun." Akan tetapi ketika Hafsah keluar dan bertemu dengan Aisyah, ia lantas membocorkannya. Allah lalu menurunkan ayat 1, "Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu demi menyenangkan hati istri-istrimu...."

Tafsir Maududi Q33:50 ()
    Dari empat budak ini (yaitu Raihanah, Juwairiyah, Safiyyah, dan Mariyah), Muhammad membebaskan 3 orang dan menikahinya, sedangkan dengan Mariyah dia memiliki “hubungan suami istri” atas dasar dia adalah budaknya. Dalam kasus Mariyah ini, tidak ada bukti bahwa Muhammad membebaskan dan menikahinya.

Dalam Alquran yang diterbitkan Entesharat-e Elmiyyeh Eslami Tehran 1377 H, Tafseer dan terjemahan ke dalam bahasa Farsi oleh Mohammad Kazem Mo’refi, dijelaskan secara gamblang latar belakang dikarangnya ayat-ayat at-Tahrim tersebut:

    Juga dilaporkan bahwa nabi telah membagi hari2nya diantara istri2nya. Dan ketika tiba giliran Hafsa, disuruhnya Hafsa pergi ke rumah ayahnya Omar Khattab, dengan alasan ayahnya memanggilnya. Ketika Hafsa pergi, nabi memanggil budak wanita Mariyah, orang Coptik yang (belakangan) melahirkan anaknya Ibrahim dan Mariyah adalah hadiah dari Najashi, lalu melakukan hubungan seks dengannya. Ketika Hafsa kembali, dia dapatkan pintu terkunci dari dalam. Dia duduk di depan pintu tsb sampai sang nabi selesai dengan ‘bisnis’nya dan keluar rumah dengan keringat bercucuran di wajahnya. Ketika Hafsa melihat dia dalam kondisi demikian dia menegurnya dan berkata kau tidak menghargai kehormatanku, kau kirim aku keluar rumah dengan alasan agar kau bisa meniduri budak wanita itu. Dan pada hari giliranku ini kau berhubungan seks dengan orang lain. Lalu nabi berkata, 'diamlah meski dia itu budakku dan oleh karenanya halal bagiku, utk menyenangkanmu, Aku, saat ini, membuatnya jadi haram bagiku. Tapi Hafsa tidak menerima ini dan meminta nabi bersumpah demi Allah, nabi melakukannya. Ketika nabi keluar rumah Hafsah ketuk dinding yang memisahkan kamarnya dengan Aisha dan menceritakan semuanya.

Dan ini juga sama, kelakuan para pengikutnya, MEMPERKOSA PARA WANITA TAWANAN:

Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 459: 
    Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz: 
    Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (Al-Azl). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus (=membuang sperma di luar vagina). Maka ketika kami bermaksud melakukan azl/coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”

Sahih Bukhari: Volume 9, Book 93, Number 506: 
    Dikisahkan oleh Abu Said Al-Khudri: 
    Ketika dalam peperangan dengan Bani Al-Mustaliq, mereka (tentara Muslim) menangkap tawanan2 wanita dan ingin menyetubuhi wanita2 itu tanpa membuat mereka hamil. Maka mereka (tentara Muslim) tanya pada Nabi tentang azl/coitus interruptus …

Memperkosa para tawanan dengan teknik azl memang sudah menjadi kebiasaan Muhammad dan pengikutnya:

Al-Waqidi vol.i, p.413 
    Seorang Yahudi berkata padaku, "Abu Said, tidak heran mengapa kau mau menjual dia (tawanan wanita) karena apa yang dikandungnya dalam perutnya adalah bayi dari kamu.” Aku berkata, “Tidak, aku melakukan ‘azl.” Mendengar ini dia menjawab (dengan kasar), “Itu hampir sama dengan pembunuhan anak!” Ketika aku sampaikan kisah ini kepada sang Nabi, dia berkata, “Orang2 Yahudi itu bohong. Orang2 Yahudi itu bohong.”

Malah, Muhammad juga mengijinkan pengikutnya menzinahi wanita tawanan di depan suaminya:

Hadist Sunan Abu Dawud Nomor 2150 
    Rasul allah mengutus ekspedisi militer ke Awtas pada saat perang Hunain. Mereka bertemu dengan musuh dan bertempur dengan mereka. Mereka mengalahkan musuh dan mengambil mereka sebagai tawanan.Beberapa teman rasul allah enggan berhubungan seks dengan wanita tawanan di depan suami mereka yang kafir. Maka allah mengirimkan ayat quran sura 4:24. "Dan (diharamkan) bagimu kecuali mereka (tawanan) yang kamu miliki."

Demi keadilan, apa hukuman buat Muhammad dan para pengikutnya????????
Dia menerapkan rajam bagi pelaku zinah Yahudi, tapi kenapa dia sendiri yang berzinah kebal dari hukum???


Sumber : Mengenal Islam
Share this article :

4 komentar:

  1. Karena Muhammad itu seperti duta besar yang kebal hukum....atau hukum harus tunduk kepada Muhammad, dalam kasus perzinahan Muhammad dengan menantunya hal ini terbukti, kalau untuk umatnya istri 4 orang cukup, kalau untuk Muhammad dapat kemudahan....wkwkwkw....emang ada buktinya kok!

    BalasHapus
  2. baiklah saudaraku maupun saudariku,,,
    mohon bagi kalian yang tidak mengerti tentang Agama kami Islam dan Rasul Kami Khususnya Nabi Muhmmad,,,
    kalau kalian tidak mengerti janganla sesekali kalian mengatakan nabi kami seorang pezina...
    untukmu agamamu untuk kami agama kami,,
    janganlah kau menjelkkan agama kami, supaya kami tidak menjelek-jelekkan agamamu,,,
    semoga Allah membukakan pintu hatimu,....

    BalasHapus
  3. sunggu fitnah tulisan yg di atas.,
    semoga allah mengampunimu sekalian.
    dan janganlah kalian menhalalkan darahmu bagi kami.

    BalasHapus
  4. mengapa muhamamd sebajat itu dijadikan nabi? hanya orang bodoh yang mengikuti muhamamd yang notabene:
    1. penipu
    2.tidak bermukjijat dan bernubuat
    3. Pembunuh
    4.Perampok
    5. Tukang kawin
    6.Pedopilia
    7.Takiyya
    8.Pemerkosa
    9.Penjarah
    10. Sakit jiwa
    Mengapa dia anda jadikan junjungan itulah sebabnya anda semua tidak mengenal siapa allah swt dan muhamamd itu sehingga mudah sekali melakukan hal hal yang menghancurkan uamt manusia karna .....ikut muhammad

    BalasHapus

Terjemahan

 
Copyright © 2011. Islam Dalam Fakta - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger